Hari ini saya melintas di depan televisi dan menangkap siaran yang
menunjukkan beberapa wanita menyanyikan lagu Batak dan beberapa background dancer yang memperagakan tarian daerah sambil
mengenakan kain khas budaya tersebut. Video yang saya tonton dengan durasi
sekitar 3 menit tersebut, membuat hati saya bangga sekaligus merasa miris.
Bangga pada budaya Batak yang tetap menjaga konsistensinya di balik
permasalahan kuatnya pengaruh budaya luar yang dialami bangsa Indonesia
belakangan ini. Sekaligus miris terhadap budaya dari kampung halaman saya, Kota
Palu, Sulawesi Tengah.
Sekitar tiga tahun lalu, setelah mendapat tugas Pelajaran Bahasa
Indonesia, kelompok saya membuat survey terhadap beberapa orang mengenai
Lalove, alat musik khas Sulawesi Tengah. Kelompok objek survey dibagi
menjadi dua, pengunjung mall dan penjual di pasar tradisional. Hasilnya,
mungkin sudah dapat ditebak bahwa tidak ada pengunjung mall yang
mengetahui apa itu Lalove dan hanya penjual-penjual di pasar tradisional yang
sudah berumur yang mengetahui tentang alat musik khas daerah ini. Selain itu,
salah satu kelompok lain menanyakan arti kata ‘Namango’ dengan pilihan jawaban
ganda kepada murid-murid di SMAku. Hasilnya sekitar 75% siswa yang menjawab
dengan benar. Padahal kata ini sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sungguh
memprihatinkan!
Yang terlintas di pikiran saya mengenai fakta ini, yaitu tidak
lama lagi budaya asli kota Palu akan punah jika terus begini. Mengingat bahwa, Bahasa
Kaili, bahasa daerah Sulawesi Tengah, hanya digunakan oleh generasi usia lanjut
dan penjual-penjual di pasar tradisional. Tarian maupun alat musik khas hanya sedikit yang mengetahui.
Jika dibandingkan dengan daerah tempat saya
merantau saat ini, Jawa Timur, dimana setiap orang menguasai bahasa daerahnya. Dari
orang tua hingga anak kecil dapat dengan lancar berkomunikasi dalam Bahasa
Jawa. Teman-teman saya yang berasal dari Sumatera Utara, juga dengan lancarnya
dapat berkomunikasi dalam Bahasa Batak, mengetahui lagu-lagu daerah, bahkan
menyimpan file mp3 lagu Batak ke dalam telepon genggamnya. Dan ketika
mereka bertanya pada saya,” Bahasa Palu itu bagaimana?”. Maka saya akan
menjawab bahwa saya tidak mengerti bahasa daerah Palu dan kami berkomunikasi
dengan menggunakan dialek campuran Manado-Makassar, yang sejak dulu telah menjadi
dialek Palu.
Apa yang saya pelajari dari siaran berdurasi
tiga menit tersebut adalah untuk mempertahankan budaya daerah maupun budaya nasional,
jangan pernah malu untuk
melestarikannya,
jangan pernah malu untuk menggunakannya,
tetapi banggalah terhadap budaya kita!
Tunjukkanlah pada dunia mengenai budaya kita, Budaya Kaili yang
sesuai dengan karakter masyarakat Palu. Termasuk, budaya timur yang sesuai
dengan karakter bangsa kita, Bangsa Indonesia. Dengan rasa bangga ini, budaya
warisan dari nenek moyang kita yang diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan tanah
air ini akan terus lestari dan menjadi kebanggan bagi setiap dari kita dan
diakui di mata dunia. Bukan tidak mungkin, kalau suatu saat nanti, budaya kita
yang akan mempengaruhi budaya negara lain. Dan hal ini akan menjadi nyata dengan
melakukan tindakan sederhana sejak saat ini, yaitu budayakanlah bangga
berbudaya!
Comments
Post a Comment